Showing posts with label hoaks. Show all posts
Showing posts with label hoaks. Show all posts

Sunday, April 7, 2019

Hoaks Terkait Dukungan Erdogan Untuk Prabowo Sandi

Sumber: Google

Agence France-Presse (AFP) media Perancis yang mengungkap kabar hoaks terkait dukungan terhadap pasangan calon 02 dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Semua bermula pada sebuah foto yang be edar dimana  Erdogan yang berpose dua jari khas pendukung Prabowo-Sandi.

Pada foto tersebut Presiden Turki tersebut tengah duduk di kabin pesawat dengan berpose tangan dua jari yang menjadi ciri khas pendukung prabowo, dan baju yang menggunakan logo Prabowo-Sandi.

Gambar hoax tersebut pertama kali beredar di Facebook dan kini telah dibagikan hingga ribuan kali.

Sumber: Akurat.co


Gambar tersebut kemudian dipotong (crop) untuk menghilangkan bagian Harsya dan ditempel gambar Erdogan di bagian wajah. Warna gambar tersebut juga diubah menjadi hitam-putih.

Namun, nomor "02" pada pakaian dan gelang putih yang dikenakan Sandiaga Uno tidak diedit. Pada hasil edit, masih terlihat sedikit bagian lengan Harsya di sandaran kursi pesawat.


Sumber: Akurat.co

Friday, April 5, 2019

WhatsApp Anti Hoakis Mengapa?

Sumber: Google

WhatsApp telah bekerja sama dengan Mafindo 'Masyarakat Anti Fitnah Indoensia' dengan meluncurkansaluran call center dengan tujuan sebagi tempat pelaporan jika ada kabar hoaks yang disebarkan melalu WhatsApp

Laporan yang diterima akan diperiksa faktanya oleh tim 'Mafindo'. Kerjasama ini  dikarenakan misinformasi kini semakin tumbuh pesat apalagi saat ini masih dalam masa menjelang pemilihan umum 2019. 

“Misinformasi merupakan tantangan yang membutuhkan kerjasama yang kuat untuk menanggulanginya. Kami senang dapat bekerja sama dengan WhatsApp untuk mengidentifikasi gosip. Sehingga kami dapat melakukan verifikasi danmenambahkannya ke arsip pendataan kami,” kata Presidium Mafindo Harry Sufehmi dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (4/4).

Masyarakat pengguna WhatsApp dapat mengirimkan teks, foto, video, atau audio yang memiliki potensi misinformasi kepada Mafindo di nomor +62855-7467-6701. Pesan-pesan ini akan dilindungi oleh enkripsi end-to-end dan tidak dapat terlihat oleh WhatsApp.

Kemudian, laporan dari masyarakat akan menjadi arsip data Mafindo tentang penyebaran misinformasi selama periode pemilihan umum dan juga membantu jurnalis sehingga mereka dapat mempublikasikan informasi faktual untuk masyarakat Indonesia.

Selain itu, WhatsApp juga berkolaborasi dengan  ICT Watch untuk memberikan edukasi mengenai misinformasi. Bentuk edukasinya adalah program pelatihan literasi digital di 10 Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di Jakarta. Untuk menarik perhatian, program tersebut juga mengarakan stiket-stiket unik yang menyuarakan tentang minsinformasi di WhatsApp.

Pihak WhatsApp menilai  kerjasama ini merupakan bentuk upaya untuk memberantas hoaks dan misinformasi yang kerap viral di platformnya.

"WhatsApp peduli terhadap keamanan pemilihan umum di Indonesia dan
kami senang dapat bekerja sama dengan Mafindo dan ICT Watch untuk membantu mereka mempelajari dan memberantas misinformasi. Kami mendorong para pengguna untuk berpartisipasi dalam upaya menanggulangi hoaks, baik sebelum maupun sesudah pemilihan umum," tulis pihak WhatsApp.

Bentuk lain sebagai langkah preventif terjadinya hoaks, WhatsApp juga telah meluncurkan kampanye mengenai kesadaran publik untuk mengidentifikasi dan mengehentikan penyebaran rumor yang berbahaya. Kampanye tersebut telah dimulai bulan Maret 2019 di radio, iklan digital di fasilitas umum dan media online.

Sebelumnya, WhatsApp juga telah membatasi fitur 'forward' percakapan maksimal 5 kali. Langkah ini dinilai dapat mengurangi viralitas pesan rumor. Bahkan pihak Whatsapp telah mengklaim bahwa upayanya telah mengurangi 25 persen terjadinya broadcast.

"Hal ini dibangun atas komitmen WhatsApp, termasuk upaya kami mengurangi jumlah pesan yang dapat diteruskan hingga maksimal lima kali, yang ternyata dapat mengurangi 25 persen distribusi pesan terusan di WhatsApp," jelasnya.

Sumber: Akurat.co

Wednesday, March 27, 2019

Wiranto: Tangkap Para Penyebar Hoaks

Sumber: Google

Wiranto Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan menyinggung terkait perundang-undang terorisme. hal tersebut sebegai bentuk rasa cintanya pada Indonesia.

"Kemarin saya bubarkan organisasi yang ideologinya tidak sesuai Pancasila itu karena kecintaan pada negeri ini. Menangkal hoaks dengan UU Terorisme membuktikan saya cinta negeri ini," kata Wiranto dalam rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) penyelenggaraan Pemilu 2019 di Hotel Grand Paragon, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2019).

Wiranto menjelaskan, sebelumnya pemerintah sudah membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan mencabut status badan hukumnya.

"Negara ini harus dijaga dan dijauhkan dari keadaan yang berbahaya. Persatuan dan pembangunan yang perlu dijaga, menjadi kewajiban pemerintah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia,"ungkapnya.

Selain itu, Wiranto menambahkan, menjelang pelaksanaan Pemilu 2019 mendatang, saat ini semakin banyak hoaks yang beredar di masyarakat.

Karena menurut mantan Ketua umum Hanura ini, hoaks yang mengancam agar masyarakat tak mensukseskan Pemilu 2019 sebagai tindakan terorisme.

"Untuk itu maka kita gunakan UU Terorisme agar aparat keamanan waspada. Tangkap saja yang menyebarkan hoaks, yang menimbulkan ketakutan di masyarakat, karena itu meneror," jelasnya.

Sumber: Akurat.co

Monday, March 25, 2019

2 Fitur WhatsApp Anti Hoaks

Sumber: Google

Dikabarkan WhatsApp akan mengembangkan dua fitur baru,fitur tersebut adalah fitur yang disebut 'Forwarding Info' dan 'Frequently Forwarded'.

Dilansir dari WABetaInfo, Minggu (24/3) untuk fitur pertama yaitu fitur 'Forwarding Info' akan memberitahu pengguna WhatsApp untuk melihat informasi tentang berapa kali pesan mereka diteruskan (forward) ke pengguna lain. Informasi tersebut dapat diakses dengan cara menekan lama (long press) pada pesan yang dikirim, kemudian tap 'Info' yang ada di pojok kanan atas.

Jika kalian ingin tahu berapa kali pesan yang kalian terima telah diteruskan, kalian bisa mencobanya dengan mengirimkan pesan tersebut ke orang lain atau ke diri sendiri dan cek jumlahnya.

Selanjutnya fitur kedua adalah 'Frequently Forwarded'. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk melihat sebuah pesan pesan yang telah diteruskan empat kali. Sehingga saat pesan tersebut di-forward yang kelima kalinya, pesan tersebut akan diberi label 'Frequently Forwarded'.

Hingga saat ini, pihak WhatsApp masih belum menjelaskan tujuan dari kedua fitur ini. Pasalnya, pihak WhatsApp telah memberikan batasan forward pesan maksimal lima kali. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir misinformasi melalui pesan berantai.

Kedua fitur yang masih diuji coba itu telah terlihat di WhatsApp untuk Android versi 2.19.80. Tapi, walaupun kalian sudah menggunakan WhatsApp versi ini, fitur ini mungkin masih belum tersedia karena belum diluncurkan secara global.

Sumber: Akurat.co

Sunday, March 3, 2019

PKS Jadi Sasaran Hoaks

Sumber: Google

Berita Hoaks kembali tersebar di media sosial, kali ini berita hoaks yang ramai di perbincangkan berupa  poster dengan logo PKS dan petingginya yang menyebut tanggal 1 Maret sebagai Hari Poligami Nasional adalah berita bohong atau hoaks.

"Beredar gambar hoax dengan konten PKS pada tanggal 1 Maret 2019 yang beriksi konten fitnah. PKS tidak pernah merilis atau memproduksi atau mempublikasi konten ini," tulis PKS dalam situs art.pks.id dikutip, Minggu (3/3/2019).

Dalam akun Twitter pribadinya PKS mengatakan  @PKS dikatakan bahwa seharuisnya Pemilu adalah kontes adu gagasan nukan saling serang dengan hoaks.

Pendukung Jokowi-Ma'ruf Diminta Rapatkan Barisan Tangkal Hoaks Dan Fitnah.

“PKS sudah meluncurkan 4 program janji kampanye sejauh ini. Tapi ternyata ada pihak-pihak yang tidak siap berkompetisi dengan gagasan sehingga menyebarkan fitnah dan kampanye hitam. Mari bersama LAWAN HOAX!,” tulisnya di Twitter.

Pemilu adalah kontes adu gagasan. PKS sudah meluncurkan 4 program janji kampanye sejauh ini.

Tapi ternyata ada pihak-pihak yang tidak siap berkompetisi dengan gagasan sehingga menyebarkan fitnah dan kampanye hitam. 

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid membantah kabar bohong itu. Menurut dia, PKS menjadi korban hoaks dan mempertanyakan apakah polisi akan mengungkap kasus ini atau tidak.

"Kembali PKS jadi KORBAN HOAX. Mereka yang tak siap berkompetisi solusi&gagasan dg PKS, mereka ambil jalan terburuk;sebar fitnah dan hoax. Adakah Polisi akan menciduk penyebar hoax dan fitnah terhadap PKS?" katanya di Twitter.

Pemilu adalah kontes adu gagasan. PKS sudah meluncurkan 4 program janji kampanye sejauh ini.

Tapi ternyata ada pihak-pihak yang tidak siap berkompetisi dengan gagasan sehingga menyebarkan fitnah dan kampanye hitam. 

Sebelumnya beredar sejumlah meme yang menampilkan foto Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri dan Presiden PKS Sohibul Iman beserta logo hingga akun media sosial PKS. Selain itu, ada pula meme lainnya dengan foto Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid dan Salim Segaf Al-Jufri.

“1 Maret Hari Poligami Nasional, mari teladani poligami dalam kehidupan rakyat,” tulis meme itu.

Sumber: Akurat.co

Bank BJB Usaha Perseroan Harus Memiliki Tujuan Mulia

Sumber: Google Bank BJB  menyabet gelar  TOP GRC 2019  karena dinilai memiliki infrastruktur, dan implementasi tata kelola perusaha...